Keep Calm and Write Something

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Setelah hampir 3 tahun blog ini vakum, akhirnya saya memberanikan diri untuk mulai menulis lagi. Sebetulnya banyak cerita yang ingin saya tuangkan dalam tulisan, akan tetapi bolak-balik rasa malas dan takut membuat “deadlock” alias kehabisan kata-kata alias mentok. Alhamdulillah, Allah kasih inspirasi lewat blognya Mba Trias yang punya program #seharimenulissatu. Saya jadi semangat lagi untuk menulis, walaupun kayaknya targetnya agak diturunin jadi #seminggumenulissatu. Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

So, keep calm and write something.

 

mood-writing

(source : http://www.rebellesociety.com/2012/10/11/the-writers-way-week-two-facing-procrastination/)

 

 

Pengalaman Perpanjang SIM

Jum’at (16-07-2010) kemarin aku sengaja ambil cuti dari kantor untuk memperpanjang SIM motorku yang sudah habis masa berlakunya sejak bulan lalu. Bersama Iqbal dan juga diantar oleh teman ayahku, kami pergi ke Polres Jakarta Selatan di Jl. Wijaya. Jam 10.30 kami sudah tiba di sana, padahal kami berangkat dari jam 9 pagi. Macet di Jakarta terlebih jam-jam segitu memang tidak bisa dihindarkan, apalagi didukung oleh hujan yang turun semenjak dari pagi sehingga menambah macet jalan.

Sesampainya di Polres kami disambut dengan pemandangan para polisi yang sedang apel pagi. Kami langsung menuju tempat perpanjangan SIM. Syukurnya, tidak terlalu banyak orang yang mau memperpanjang SIM hari ini. Jadi kami tidak perlu lama mengantri. Berhubung aku tidak menyiapkan fotokopi KTP dan SIM makan aku harus fotokopi terlebih dahulu. Alhamdulillah, di sana tersedia tempat fotokopi sehingga aku tidak perlu bingung-bingung cari tempat fotokopian.

Hal pertama yang harus aku lakukan adalah periksa mata untuk mendapatkan surat keterangan sehat penglihatan. Untuk itu aku di arahkan untuk masuk ke sebuah ruangan yang bertuliskan praktek dokter pada pintunya. Di dalam ruang tersebut aku ditanya apakah menggunakan kacamata, Yang Alhamdulillah jawabannya masih “tidak”. Setelah itu aku disuruh membaca beberapa baris huruf dengan berbagai macam ukuran dari jarak tertentu seperti ketika kita mau melakukan pemeriksaan untuk kaca mata di optik. Proses ini berlangsung tidak sampai 10 menit dan untuk pemeriksaan mata tersebut aku dikenakan biaya Rp. 20.000,- .

Dari ruangan dokter itu kemudian aku diarahkan oleh seorang petugas polisi berseragam batik untuk membayar administrasi perpanjangan SIM di loket BRI yang terletak di belakang ruangan praktek dokter tadi. Ruangannya cukup kecil dan hanya tersedia satu teller meyebabkan aku harus mengantri sebentar. Biaya perpanjangan SIM C adalah sebesar Rp. 75.000,- sedangkan jika ingin memperpanjang SIM A maka biayanya menjadi Rp. 80.000,-.

Aku kira setelah membayar administrasi di Bank BRI tersebut aku sudah bisa langsung menuju loket perpanjangan SIM. Ternyata aku masih harus membayar asuransi kecelakaan diri pengemudi sebesar Rp. 30.000,- di loket lain. fiuh…. kenapa harus pindah-pindah sih. Ternyata ribet juga ya… Apa gak bisa ya dijadikan satu loket dan proses pembayarannya dikumpulkan jadi satu semuanya. Hmm…. just curious. Jika dilihat dari nilai asuransinya  mungkin tidak seberapa tapi cukup bagus laaah untuk menunjukkan peningkatan pelayanan dari pihak kepolisian. Hehehe mudah-mudahan bukan cuma bagian dari proyek aja ya ;).

Kartu Asuransi

Setelah semua persyaratan untuk memperpanjang SIM lengkap aku baru bisa menuju loket perpanjang SIM. Petugas di loket tersebut meminta semua kelengkapan berupa SK dokter, kuitansi dari BRI, bukti pembayaran asuransi, fotokopi KTP, dan SIM lamaku. Ternyataa di loket ini aku masih harus membayar biaya administrasi sebesar Rp. 50.000,-. Lho ternyata yang 7 ribu itu belum mencakup semua ya ?!!! Dan untuk pembayaran administrasi ini aku tidak mendapat bukti pembayaran atau kuitansi seperti yang di BRI tadi lho !!! Cuma karena aku paling malas cari ribut makanya aku diam dan bayarkan saja (hehehe yang ini jangan ditiru ya). Bersamaan dengan selesainya proses di loket perpanjangan SIM ternyata kartu asuransinya pun sudah jadi. Begini nih tampak muka dari kartu asuransinya.

Proses masih belum selesai, berikutnya aku harus masuk ke ruangan foto untuk diambil foto, cap jempol tangan kanan dan kiri, serta tanda tangan. Selesai di foto maka aku masih harus menunggu sampai SIM-nya jadi. Alhamdulillah tidak sampai 5 menit namaku sudah dipanggil dari loket pengambilan SIM. Total waktu yang dibutuhkan dari awal proses sampai akhirnya SIM baru sampai di tanganku tidak sampai setengah jam lho.  Entahlah jika orang yang mau memperpanjang SIM cukup banyak apakah semua proses ini akan selancar tadi atau bisa lebih lama. Yang pasti karena ini pengalaman pertamaku maka aku cukup puas dengan pelayanan pihak Polres tersebut.

Ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan perhatian sebelum teman-teman mau perpangjang SIM.

  • Jangan sampai telat untuk melakukan perpanjangan SIM, karena jika telat sampai setahun kita harus membuat SIM baru lho…
  • Siapkan fotokopi KTP & SIM sebelum berangkat ke Polres, biar lebih cepat aja prosesnya.
  • Pada waktu membuat tanda tangan sebaiknya besar-besar karena nanti setelah dicetak jadinya kecil bgt.
  • Ada baiknya kita meminta kuitansi atau bukti pembayaran bahwa kita sudah memberikan sejumlah uang untuk biaya administrasi. (Klo yang ini sarannya my hubby lho !!! Karena dia tipe orang yang sangat-sangat kritis sama masalah duit hehehe. )
  • Jangan lupa senyum pas di foto, biar hasil foto di SIM-nya bagus 🙂

my new SIM, tuuh kan jadinya tanda-tangannya kecil banget !

OK deh sekian dulu deh catatan perjalanan kali ini.

Si Oranye Imut

Bukan….bukan karena sedang gandrung oleh salah satu permain dari tim Belanda yang sayangnya kalah oleh tim Spanyol di final piala dunia kemarin. Bukan juga melambangkan si metro mini yang berwarna oranye jurusan blok M – pondok Labu (yang sayangnya tidak imut). Tapi judul di atas itu adalah panggilanku untuk sebuah buku tulis dengan sampul berwarna oranye yang baru kuterima tadi pagi.

Si Oranye Imut - Special Present from my hubby

Warna yang cukup gonjreng dari semua koleksi buku harianku. Although it has unusual color (for me), this is very special book. Since it is a present from my hubby. Jarang-jarang loh suamiku itu kasih hadiah. Hehehe, since he is not kind of romantic man, as long as I know.  Jadi begitu dikasih kado ini langsung terbersit pertanyaan, is there any special meaning from this present ???. Hehehe, agak gak percaya gitu sama ketulusan hatinya (Maaf ya sayangkyu).  Waktu kutanya maksud pemberiannya dia cuma menjawab dengan tersenyum kecil dan mengatakan bahwa buku ini bisa lebih bermanfaat jika diberikan kepadaku. Atau jangan-jangan karena waktu itu si mas ngelihat aku lagi asik corat-coret rencana penelitian di sebuah mini note milikku dan sedikit kesusahan menggambar bagan karena ukuran note yg kecil itu. Aaah, apa pun alasan di balik pemberian suamiku itu, aku senaaaaang :).

Alhamdulillah, jazakallahu khairan katsir cintaku. Mudah-mudahan buku ini benar-benar bisa bermanfaat baik untuk menuangkan segala cerita ataupun ide-ide yang berkaitan dengan pekerjaan yang saat ini menumpuk di kepalaku tapi suka malas dituliskan di laptop. Apalagi semenjak di rumah gak ada internet, dengan adanya buku ini jadi gak ada alasan lagi untuk tidak menulis dengan alasan gimana mau nulis di blog, lha wong internetnya gak ada. Walaupun kesannya jadi gak hitech karena hariii gini gitu looh, di saat netbook, BB, ipad, ataupun i-phone mulai menjamur- kok masiiih ada aja yang nulis pakai buku :P. Teteeeup….this book means a lot to me.

Sudah kusampaikan…

Alhamdulillah terucap juga kata-kata itu dari mulutku.
Bahwa sebenarnya ku menolak pekerjaan itu.
Tapi apa daya ternyata penolakan itu tak berhasil.
Pekerjaan harus tetap dilakukan. Walaupun hati kecil tak bersedia, tapi tetap saja HARUS….
Kenapa harus, aku juga tak tahu.
Dan kenapa harus di tempat ini, aku juga tak tahu.
Karena pasti alasannya terlalu tinggi untuk dipahami.
Akan penuh dengan bahasa politik, yang bikin malas untuk dibahas.
Mungkin ada maksud di belakang ini, entahlah….
Aku cuma berdoa semoga Allah tetap melindungiku kali ini dari maksud-maksud tersembunyi yang tidak baik.
Karena Allah Maha Tahu hal-hal yang tersembunyi.

Severn Suzuki – Girl Who Silenced the UN For 5 Minutes

Terpesona…. satu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya ketika membaca artikel ini di notes salah satu temanku di facebook. Apalagi setelah nonton videonya…. subhanallah. Jadi terpacu untuk lebih memperhatikan lingkungan, bukan untuk siapa-siapa tapi lebih untuk diri sendiri dan juga anak-anak saya kelak. Berikut ini saya tampilkan video dan juga terjemahan dari pidato Severn Suzuki – seorang gadis berumur 12 tahun dari Kanada – yang berhasil membungkam para pemimpin dunia di Konfrensi Lingkungan hidup PBB pada tahun 1992.

PIDATO ANAK 12 TH YANG MEMBUNGKAM PARA PEMIMPIN DUNIA DI PBB
Cerita ini berbicara mengenai seorang anak dari Kanada bernama Severn Suzuki, seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental
Children’s Organization ( ECO ).

ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak yg mendedikasikan diri
untuk belajar dan mengajarkan pada anak” lain mengenai masalah lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB,
dimana pada saat itu Severn yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato
kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin
dunia terkemuka.

Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil berusia 12 tahun hingga bisa
membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang
sidang penuh dengan orang terkemuka yg berdiri dan memberikan tepuk
tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Inilah Isi pidato tersebut: (Sumber: The Collage Foundation)

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O – Enviromental
Children Organization
Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12
dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga,
Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa
datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda sekalian
orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di sini juga.
Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan
bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum
atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi
semua generasi yg akan datang.

Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia yang
tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat
yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan
habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena
berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya
tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa
tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker.
Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu
persatu mengalami kepunahan tiap harinya – hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar
binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan
burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal
tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini
ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap
bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua
pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki
semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda
sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai
asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang
telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di
tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak tahu
bagaima cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota
perhimpunan, wartawan atau politisi – tetapi sebenarnya anda adalah ayah
dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi – dan
anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua
adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari
5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air
dan tanah di planet yang sama – perbatasan dan pemerintahan tidak akan
mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua
menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk
tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak
ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami membeli
sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. Walaupun
begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi dengan
mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk
kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan
dan papan yang berkecukupan – kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer
dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami
menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah
satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: ” Aku berharap aku kaya,
dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan,
pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang ” .

Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun,
bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih
begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia
sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan
yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari
anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak
yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau
pengemis di India .

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua uang
yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan
dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya
dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk
berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan
orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita
timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk berbagi dan
tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan
pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda
melakukan hal ini – kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah
yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua
seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan
mengatakan, ” Semuanya akan baik-baik saja , ‘kami melakukan yang
terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari segalanya.”

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada
kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua?
Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu,
bukan oleh kata-katamu”.

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari.
Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang
A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.
***********

Servern Cullis-Suzuki telah membungkam satu ruang sidang Konperensi PBB,
membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan
pidatonya. Setelah pidatonya selesai serempak seluruh orang yang hadir
diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah
kepada anak berusia 12 tahun itu.

Dan setelah itu, ketua PBB mengatakan dalam pidatonya:

” Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri karena
saya baru saja disadarkan betapa pentingnya linkungan dan isinya
disekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun, yang maju berdiri
di mimbar ini tanpa selembarpun naskah untuk berpidato. Sedangkan saya
maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh asisten saya
kemarin. Saya … tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12
tahun ”

——— ——
*Tolong sebarkan tulisan ini ke semua orang yang anda kenal, bukan untuk
mendapatkan nasib baik atau kesialan kalau tidak mengirimkan, tapi mari
kita bersama-sama membuka mata semua orang di dunia bahwa bumi sekarang
sedang dalam keadaan sekarat dan kitalah manusia yang membuatnya seperti
ini yang harus bertindak untuk mencegah kehancuran dunia.
*(Copyright from: Moe Joe Free)*

Belajar Membagi Waktu

Akhir-akhir ini aku sedang kelimpungan dalam membagi waktu antara melakukan kegiatan rumah tangga, mengurus dua anak, dan menyusui. Karena selama ini benar-benar tergantung sama asisten rumah tangga terutama dalam hal masak-memasak. Belum lagi jika harus ditambah jika nanti masa cutiku habis dan harus masuk kantor lagi. Selama satu minggu terakhir ini aku mencoba beradaptasi dengan keadaan ini dan hasilnya masih kelimpungan juga. Alhamdulillah, akhirnya aku mendapatkan artikel bagus dari blognya mba maya mengenai cara membagi waktu bagi ibu-ibu yang sudah punya anak. Berikut ini aku lampirkan artikelnya. Semoga bermanfaat juga untuk yg lain :).

Membagi Diri Membagi Waktu

Banyak temen2 di milis yg tanya bagaimana caraku mengatur sehingga sepertinya semuanya beres…rumah beres, anak terurus, tapi tetep bisa ngenet…

Well…memang gak mudah…karena aku ini walaupun FTM aka Full Time Mom..aka IRT…aka Ibu Rumah Tangga…tapi aku ya sama aja sibuknya dg ibu bekerja aka working mom..

Mungkin yg gak tahu latar belakangnya menganggap…ah itu sih biasa…gak hebat.. tapi banyak juga yg terheran2..terutama ibu2 baru…bagaimana caranya?

Aku ini memang cuma FTM / IRT…tapi punya anak 3, yg dua terhitung masih balita 5,5 th & 4 th, dan yg satu lagi terhitung masih bayi 11 bln…trus? Dimana letak anehnya? Aku ini gak punya asisten rumah tangga (ART) sama sekali apalagi babysitter (BS).

Kalau buat yg tinggal di luar negeri.. mereka mungkin sudah biasa menghadapi masalah beginian…karena bayar ART & BS di luar negri sana kan mahalnya minta ampun. Tapi mungkin buat yg tinggal di Indonesia, mungkin aneh…secara bisa bayar org kog buat jd ART, jd pasti gak kebayang kalo sampe harus gak punya ART & BS…dg anak 3 yg masih kecil2.

Nah…mulai kebayang kan…bagaimana “repotnya”? Punya anak satu aja repot kalo gak punya asisten or babysitter..apalagi punya anak 3?

Yah..memang repot …namanya cuma punya tangan cuma dua..tapi harus mampu “membagi diri & membagi waktu” sehingga seolah2 aku ini harus punya tangan delapan! Lho kog?

Lah iya toh…bapaknya anak2 kan harus masuk hitungan anak2 juga ..karena dlm bbp hal kadang2 bapaknya anak2 ini juga manjanya bisa melebihi anaknya…hahaha

Trus gimana caranya donk??? Gampang….belah aja dirimu menjadi bbp bagian..dan lakukan pekerjaan itu dlm sekali waktu…hahahaha

Selama ini sih jurus jitu yg aku pake sih masih sama lah..doing multiple job in one time…. Dg begitu aku bisa sedikit menghemat waktu & punya sedikit waktu santai2 di waktu lain.

Contoh mudah spt yg bbp hari lalu aku lakukan.

Kebayang nggak bisa nyuci baju, bikin kue, cuci piring, & masak dlm satu waktu?

Jaman sekarang semua bisa diatur…berkat kecanggihan teknologi…jd pekerjaan pun jd sedikit lebih mudah.

Oke…begini caranya….

pertama isi bak cucian dulu (mesin cucinya masih manual) pake selang…….              sembari menunggu aku siapkan bahan2 kue & mulai mengocok telur dg standing mixer, sembari menunggu aku mulai merebus ayam utk sop & menghaluskan bumbu dg blender, membersihkan beras & memasak nasi di magic com.                                          Jadi….sambil menunggu cucian di mesin cuci, kocokan telur di mixer, rebusan ayam & blenderan bumbu, aku sambi dg mencuci piring sedikit2 (manual) & menggoreng tempe/tahu/ikan..fiuhhhh

Sudah selesai? Belum donk…cucian masih digiling lagi bbp kali..diisi baknya lagi bbp kali.. jd ya musti mondar mandir liatin cucian…masukin bahan2 kue ke cetakan utk dipanggang… nguleg sambel utk pelengkap makan, memotong2 sayur utk sop, sambil mencuci piring sedikit2….

Di lain waktu….

Sambil nyusuin Falda…nemenin kakak2nya main…menunggu goreng ikan/ayam/tempe di dapur…ngisi bak mandi…yippppiiiii dua tiga pulau terlampauiiiii

Jadi tempe yg lagi digoreng..kan gak harus ditungguin..
trus keran dibuka buat isi bak mandi
tinggal dulu trus nyusuin Falda sambil duduk..
sementara kakak2nya main di dekatku…
tangan kiri megang Falda..tangan kanan yg bebas bantuin kakaknya dg mainannya
berhubung Falda nyusunya cuma bentar2 jadi begitu selesai nyusu..
aku ke dapur ngecek gorengan…trus ke kamar mandi ngecek bak mandi dah penuh ato belum….fiuuuuuhhhhh

Di suatu pagi…

Pagi2 bikin kopi ayah…sambil nyiapin sarapan…disambi nyiapin perangkat sekolah Faldi…nyetrika baju Faldi…mandiin Falda…Faldi-Ferdi mandi sendiri…

Another time….

Saat aku nyapu…air lagi direbus dikompor..nasi lagi dimasak di magic com bersama telor…cucian lagi direndam di tpt cucian..horeeee…

Trus istirahatnya kapan?

Saat sedang menyusui Falda…aku susui Falda sambil tiduran…lumayan…bisa meluruskan kaki & mengendurkan sedikit otot2 yg pegel….atau saat menemani anak2 bermain.

Trus internetannya kapan?

Ya sambil menyusui bisa..sambil nemenin anak2 main bisa….sambil nunggu kue selesai dipanggang…ato sambil nunggu gorengan/kukusan/rebusan matang…sambil menunggu cucian kelar….

Smoga bisa jd inspirasi

Sumber : Maya Siswadi (http://bunda2f.multiply.com/journal/item/82)

Perjuangan Untuk Suapan Pertama

Pondok Labu, 6 Agustus 2009.

Fiuh… pagi ini perjuanganku untuk membuat Iqbal berhasil dilakukan tanpa harus dengan marah-marah dan ancaman :). Kemarin aku memang bertekad untuk bisa membujuk anak pertamaku ini untuk mau makan pagi tanpa harus menarik otot :D. Karena akhir-akhir ini, lebih tepatnya dimulai semenjak kandunganku sudah mendekati 8-9 bulan sampai aku akhirnya melahirkan, Iqbal makannya mulai susah. Dia pintar sekali memancing amarahku sehingga membuatku harus sedikit bersuara keras kepadanya dan mengancamnya supaya dia mau makan. Sebetulnya aku tahu jika cara ini mungkin kurang baik, tapi bingung mau bagaimana lagi karena kalau dibujuk dengan kata-kata halus dia seperti meledek. Hmm…mungkin akunya saja yang kurang sabar :(, walhasil kalau sudah begitu aku menyerah deh !!! Dan kebiasaan susah makannya ini semakin menjadi ketika aku tinggal di rumah orang tuaku setelah melahirkan. Wah…dia makin punya cara untuk menolak jika disuruh makan, dari mulai minta tidur, kejar-kejaran dengan mbaknya, sampai minta perlindungan kepada aki-ninnya. Untuk cara yang terakhir dia bisa sampe nangis-nangis ke aki-ninnya. Jadi serba salah deh… yang ada akunya makin khawatir karena takut berat badannya turun (padahal dia udah termasuk kategori kurus lho) dan sakit.

Alhamdulillah pagi ini berbeda….kucoba melakukan pendekatan halus kepadanya. Kuajak dia bermain dan menonton acara anak-anak favoritnya. Awalnya dia mencoba menolak suapan pertama, tapi kucoba lagi sambil membujuknya dengan memasang muka ceria dan tertawa padahal dihatiku sudah takut akan mendapat penolakan lagi. Tapi….yippie…hoooreeee ketika kucoba mendekatkan sendok ke mulutnya tanpa disangka-sangka dia membuka mulutnya dan aku sukses memasukkan suapan pertama tanpa perlu marah-marah seperti biasanya :). Suapan kedua, ketiga, dan seterusnya berhasil pula kulakukan. Memang sih tak semulus  pada suapan pertama karena jika dia sudah bosan dengan mainan yang aku berikan atau ketika sedang iklan dia pasti berhenti makan dan mulai ngeyel lagi. Kalau sudah begitu kucoba cari mainan baru untuknya, apa saja kucoba untuk dijadikan umpan. Mulai dari krayon dan kertas, cat air, kartu UNO milik om dan tantenya sampai memutar video barney kesukaannya. Yang penting targetku agar dia makan sampai habis tercapai. Dan memang akhirnya target itu tercapai :), walaupun mungkin memakan waktu dan harus memutar otak agar kreatif tapi Alhamdulillah hasilnya dia mau menghabiskan makannya.

Jika ditanya bagaimana rasanya….wah lega sekali dan suatu kepuasaan tersendiri. Yang pasti berbeda rasanya ketika berhasil membuat Iqbal menghabiskan makanannya dengan cara halus dibandingkan dengan cara marah-marah. Iqbal terlihat lebih menikmati makannya karena tidak berada dalam tekanan dan rasa takut. Aku yakin ini semua tidak lepas dari pertolongan Allah yang sudah menunjukkan ilham agar aku lebih kreatif dan melunakkan hati Iqbal agar mau makan. Karena hanya Allah yang menguasai segala makhluk…. Dia bisa mengeraskan hati seseorang semudah Dia melunakkannya. Seberapa besar pun tenaga dan pikiran kita berusaha untuk mengubah hati seseorang jika kita tidak meminta pertolongan Allah untuk membolak-balikkan hatinya maka akan sia-sialah usaha kita.

Hari ini aku kembali mendapat suatu pelajaran berharga. Pelajaran yang aku dapat dengan menjadi orang tua. Aku jadi bisa mengerti perasaan ibuku ketika dulu aku juga susah makan. Hmm…. Sesuatu yang mungkin belum tentu kumengerti jika aku belum merasakannya sendiri. Terima kasih Allah, karena Kau telah menganugerahkan kesempatan ini… membuatku semakin menghargai apa yang sudah ibuku lakukan untukku selamat ini !!! Untuk para ibu, bunda, atau pun mamah di dunia ini, tetap semangat dan jangan menyerah untuk melakukan yang terbaik untuk anak-anak kita dengan cara-cara yang disukai Allah SWT. Jika anak anda susah makan, tetaplah kreatif dan inovatif dalam membujuk anak-anak kita supaya mau makan J. Insya Allah, perjuangan kita akan bernilai pahala di mata Allah SWT. Amiiin.